Pelajaran Berharga Di Balik Munculnya Al-Qiyadah Al-Islamiyah
Kemunculan Al-Qiyadah Al-Islamiyah merupakan momen yang baik bagi umat Islam untuk memahami dan meneguhkan kembali ajaran agamanya. Para da'i dan mubaligh diharapkan meningkatkan pembinaan terhadap umat, karena dengan kemunculan Al-Qiyadah beserta sejumlah pengikutnya di beberapa tempat, mengisyaratkan bahwa pembekalan pengetahuan Islam kepada umat tentang agamanya dianggap masih belum memadai, hal ini terbukti dengan banyaknya umat Islam yang terjerumus mengikuti ajaran sesat tersebut.
Beberapa hari ini media diramaikan dengan berita heboh tentang adanya kelompok aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Indonesia. Berbagai kalangan pun menanggapi kemunculannya tersebut bermacam-macam sesuai sudut pandang masing-masing, dari mulai sikap mengkaji lagi aliran tersebut lebih lanjut hingga menetapkan bahwa aliran tersebut adalah sesat. Di sisi lain ada juga yang memandang bahwa munculnya kelompok aliran Al-Qiyadah adalah merupakan grand disign dari orang-orang di luar Islam yang ingin menghancurkan Islam dari dalam, ...dll.
Memang tidak menutup kemungkinan adanya hal tersebut, namun dengan adanya kemungkinan itu seyogyanya para ulama lebih giat lagi untuk membina umat, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Masalah kemunculan Al-Qiyadah ini adalah merupakan masalah yang kompleks, sehingga penanganannya pun mesti kompleks dan tidak bisa ditangani secara parsial. Dalam hal ini semua pihak seperti alim ulama, pemerintah, dan masyarakat ikut bertanggung jawab atas kemunculan aliran macam Al-Qiyadah Al-Islamiyah tersebut.
Di samping itu munculnya peristiwa tersebut hendaknya tidak luput mengambil hikmah atau pelajaran dibalik peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi bersama untuk semuanya, khususnya bagi ormas dan orsospol Islam agar bisa menata diri kembali.
Semua ormas dan orsospol Islam hendaknya menyadari bahwa mereka masih belum berhasil dalam membina aqidah umat. Karena kalau umat sudah terbina, mereka tidak akan mudah untuk menjadi pengikut suatu aliran, terlebih mengikuti aliran sesat.
Menurut koordinator Aliansi Ummat Islam (ALUMI), Hedi Muhammad, dari hasil penyelidikan ALUMI diketahui, aliran sesat yang mengatasnamakan Islam telah muncul di Indonesia sejak tahun 1980-an Sampai 2006, jumlahnya telah mencapai 250 aliran. Jumlah tersebut sepanjang 26 tahun menunjukkan bahwa begitu mudahnya sebuah aliran sesat lahir dan punya banyak pengikut.
Dakwah aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini, cukup mengkhawatirkan karena telah menyebar ke beberapa provinsi, antara lain di Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan tercatat ribuan orang mengikuti dakwahnya.
Momen seperti ini hendaknya dijadikan sebagai momen yang baik bagi umat Islam untuk memahami dan meneguhkan kembali ajaran agamanya.
Untuk itu para da'i diharapkan meningkatkan pembinaan terhadap umat Islam Indonesia. Karena dengan kemunculan Al-Qiyadah dengan sejumlah pengikutnya, berarti pembekalan pengetahuan Islam kepada umat tentang agamanya bisa dianggap masih belum memadai, ini terbukti dengan banyaknya umat Islam yang terjerumus mengikuti ajaran sesat tersebut.
Disamping itu kemunculannya juga memberikan introspeksi bagi para penyelenggara pendidikan dan da'wah, baik melalui majelis-majelis ta'lim yang sering aktif di tingkat-tingkat RT, juga pendekatan mereka kepada masyarakat awam yang tidak aktif dalam majelis ta'lim maupun organisasi keagamaan.
Berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), 50 persen umat Islam di Indopensia tidak bergabung dalam ormas apapun, sehingga mereka tidak dapat pembinaan secara komprehensif dan kontinyu dari para da'i. Ini juga yang menjadi sasaran empuk buat mereka.
Akan tetapi yang unik dan patut dikaji kiranya, bahwa banyak di antara yang menjadi pengikut Al-Qiyadah adalah mahasiswa. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah mereka mahasiswa perguruan tinggi umum atau mahasiswa perguruan tinggi Islam? Kalau mereka dari mahasiswa umum mungkin masih bisa dibilang wajar, akan tetapi jika kebanyakan mereka adalah mahasiswa perguruan tinggi Islam, maka kurikulum tentang pendidikan Islamnya masih perlu dipertanyakan, apalagi kurikulum tentang pendidikan agama Islam sudah diberikan sejak di tingkat sekolah dasar.
Dengan kejadian ini pula sepantasnya bagi penyelenggara pendidikan dan da'wah, baik formal maupun non formal untuk mengevaluasi kembali kurikulum ataupun materi pendidikan agama Islam yang telah berjalan, sejauh mana tingkat keberhasilan kurikulum ataupun materi tersebut dalam menanamkan aqidah yang benar dan kuat kepada peserta didiknya. Dan dengan kejadian ini pula semoga umat Islam semakin merapatkan barisan dan mempererat ukhuwah islamiyah serta berlomba-lomba dalam menjaga dan memurnikan ajaran Islam.<<nsr>>








Konsultasi
Dilarang mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam situs www.alquranseluler.com tanpa izin tertulis dari www.alquranseluler.com, baik itu berupa artikel berita, foto, image beserta materi-materi
lainnya.