Pemutarbalikan Fakta
Pembantaian brutal yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina dinyatakan sebagai "membela diri". Upaya perlawanan rakyat Palestina karena terhimpit akibat embargo massal dan isolasi super ketat dari Israel serta menjadi sasaran gempuran mesin perang yang membabi buta yang tidak ada lagi alternatif lain kecuali dengan aksi perlawanan bersenjata dinyatakan sebagai "teroris".
Di tengah berbagai kecaman dunia terhadap kebiadaban tentara Israel yang terus saja membantai rakyat Palestina di Jalur Gaza, sekutu utama Israel, Amerika Serikat melalui Juru Bicara US State Department, Shaun McCormack menyatakan bahwa segala serangan Israel atas rakyat Palestina adalah sah dan legal menurut konstitusi karena hal itu dilakukan Israel untuk mempertahankan diri terhadap berbagai serangan roket yang dilancarkan “para teroris” Palestina. Adapun menyinggung soal banyak jatuhnya korban sipil dalam serangan tersebut, yang terdiri dari anak-anak kecil dan para perempuan, ia menyatakan bahwa, “Dalam setiap pertempuran, hal tersebut tidak bisa dihindari. Ini adalah harga yang logis bagi upaya mempertahankan diri yang dimiliki oleh Israel.
Pembantaian brutal yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina dalam beberapa hari terakhir dinyatakan sebagai "membela diri". Sedangkan upaya perlawanan rakyat Palestina lantaran terhimpit akibat tekanan embargo massal dan isolasi super ketat dari Israel, menjadi sasaran gempuran mesin perang Israel yang membabi buta dan tak ada lagi langkah alternatif lain untuk menghadapi Israel kecuali dengan aksi perlawanan bersenjata dinyatakan sebagai "teroris".
Seperti dikatakan Direktur jenderal sumber energi listrik di Ghaza, Derar Abu Sissi sedikitnya 800. 000 warga Ghaza kini hidup tanpa penerangan, akibat penutupan semua perbatasan oleh rejim Zionis Israel. "Bencana ini akan berdampak pada rumah-rumah sakit, klinik-klinik kesehatan, sumur-sumur berpompa, rumah-rumah tangga, pabrik dan hampir semua aspek kehidupan di Ghaza, " ujar Abu Sissi.
Dr Medhat Abbas, kepala unit manajemen krisis di kementerian kesehatan mengungkapkan, generator pembangkit-pembangkit listrik di rumah sakit anak Al-Nasser hanya mampu bertahan beberapa jam lagi. "Para pasien dan anak-anak ini sedang menunggu nasib dan akan meninggal, " ujar Abbas. Demikian halnya pasien dewasa terutama mereka yang sedang menjalani perawatan intensif. Selain itu, persediaan darah dan vaksin terancam rusak karena tempat-tempat penyimpanannya membutuhkan tenaga listrik.
Perjuangan semacam inikah yang layak mendapat cap "teroris", sedang pengisoliran dan penyiksaan terhadap rakyat Palestina mendapat penghargaan "membela diri"?
Seperti diketahui, sejak konferensi Annapolis yang digagas oleh AS akhir November lalu, lebih dari 120 warga Palestina gugur akibat operasi militer Israel di Jalur Ghaza yang sampai sekarang masih terus terjadi. Pertemuan apapun yang dilakukan ternyata mandul tidak menghasilkan apa-apa.
Upaya Indonesia untuk menjadi fasilitator dalam proses pemulihan di Palestina melalui Konferensi Tingkat Menteri Asia Afrika, akankah akan memberikan makna bagi tercapainya keadaan kondusif di Palestina?
Seperti diketahui pula bahwa sementara terjadi konferensi Annapolis, saat itu pula pembantaian terhadap warga Palestina terus berlangsung.
Ya Allah Ya Tuhan kami, berilah kesabaran pada diri mereka, dan kokohkanlah pendiriannya serta tolonglah mereka dari orang-orang kafir.<<nsr>>








Konsultasi
Dilarang mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam situs www.alquranseluler.com tanpa izin tertulis dari www.alquranseluler.com, baik itu berupa artikel berita, foto, image beserta materi-materi
lainnya.